pemotongan rambut gembel, DIeng.

Pagi buta sudut-sudut desa ini sudah ramai di penuhi orang-orang yang sangat sibuk, sibuk untuk mempersiapkan pembukaan acara nanti. Hari ini akan di selenggarakan Dieng culture festival. Yang lebih terkenal dengan pemotongan rambut gimbal. Saya sengaja mengunjungi Dieng bertepatan dengan festival ini, di karenakan acara ini hanya di laksanakan sekali dalam setahun. Saya mulai berjalan mengelilingi sekitaran candi arjuna  yang dijadikan tempat pembukaan festival itu, saya mencoba mendekati sekumpulan orang yang sedang menghangatkan tanggannya di atas perapian. Memang suhu disini sangat dingin sekali, terlihat dari asap uap yang keluar dari mulut saya setiap saya berbicara. Ketika saya mendekat saya langsung di berikan ruang untuk ikut mengahangatkan  tangan. Kamipun mulai berbincang, ternyata suhu di Dieng mencapai 7 derajat celcius, itu setelah pemilik warung menunjukan kepada saya alat pengukur suhu yang ada di warungnya. Katanya suhu saat ini tidak separah pada bulan Agustus nanti, pada bulan Agustus itu suhu pada ketitik tertingginya yaitu bisa sampai minus. “kalau di bulan  Agustus, kamu bisa melihat bunga es diatas rumput disekitaran candi arjuna itu” kata pemilik warung menambahkan. tungku api yang ada di setiap warung

pemandu wisata lokal

pemandu wisata lokal

Saya langsung membayangkan rumput  yang  berlapis  es  seperti salju-salju di eropa sana, tapi mana mungkin. Ah, itu paling tidak semua tertutupi es pikirku. Tak lama berbincang dengan si pemilik warung dan salah satu guide lokal yang memiliki pengalaman sangat hebat itu terlihat jelas dari pin  yang  memenuhi hamper seluruh rompi yang dikenakannya. Orang- orang mulai memenuhi area tersebut, sebentar lagi akan di laksanakan pembukaan Dieng culture festival, acara pembuka adalah jalan santai mengelilingi kawasan wisata Dieng sebagai pengenalan  wisata dan juga sebagai acara pemanasan. Terlihat tidak hanya  wisatawan domestik saja yang mengikuti jalan santai ini, banyak wisatawan asing  yang menjadi peserta. Tak hanya itu, panitia disini juga membagikan 1000 gelas minuman stamina purwaceng kepada para peserta. Purwaceng itu sendiri adalah tanaman herbal alami yang tumbung di sekitaran kawasan Dieng, purwaceng ini terlihat seperti gingseng. Biasanya purwaceng di konsumsi masyarakat di campur dengan susu atau kopi. Dilihat dari namanya mungkin agak rancu ditambah lagi minuman ini adalah minuman stamina, rasa penasaran saya langsung terjawab setelah saya mulai mencoba minuman ini. Rasanya seperti gingseng susu, namun secara keseluruhan minuman ini sangat pas diminum ke tempat  yang  dingin seperti Dieng. Setelah meminum purwaceng saya mulai ikut berjalan santai mengelilingi kawasan Dieng. Tak terasa 1 jam berlalu dan saya sampai di tempat semula. IMG_4270 IMG_4279 Kedatangan para peserta di sambut dengan musik traditional dan para penari yang menari dengan anggunnya. Musik ini menandakan aktifitas di stand-stand yang sudah ada dimulai. Saya mencoba untuk mendekati panggung untuk melihat para penari laki-laki dengan lincahnya menggerakan tangan dan badannya. Penari laki-laki masih anak-anak dengan usia sekitaran 8-10 tahun. Menurut saya ini sangat unik sekali karena biasanya tarian dilsayakan oleh para wanita. IMG_4290 IMG_4350 Dieng terkenal dengan telaga warnanya, telaga ini memiliki 3 wanra air. Penasaran saya pun mulai berjalan menuju telaga tersebut. Telaga tersebut berjarak sekitar 500 meter dari candi arjuna. Saya tersadar akan keindahan Dieng ini, tidak hanya budaya dan mitos rambut gimbalnya itu namun alamnyapun tidak mau kalah memanjakan para wisatawan yang datang. Telaga yang di kelilingi pohon-pohon dan berlatar belakang gunung menjadikan pemandangan ini sangat indah. Duduk di pinggir telaga menjadi pilihan saya saat itu menikmati suasana yang sepi, terlihat hanya beberapa orang saja yang berlalu lalang. Mungkin semua orang terlalu fokus pada acara festival itu. Deing pun memiliki suatu ruangan                yang didalamnya menyajikan film tentang sejarah Dieng itu sendiri dimulai dari alamnya hingga masyarakatnya yaitu Dieng plateu. Namun dikarenakan waktu sudah sore jadi kami tidak memasukinya, sedikit kecewa tapi mau gimana lagi. Setlah berkeliling kami ternyata mulai jauh dari tempat penginapan yang berada disekitaran candi arjuna. Untung kami di ajak oleh mobil yang mengangkut para petani yang melintas ketika kami duduk kelelahan di pinggir jalan. IMG_4086 IMG_4078 IMG_4060 IMG_4009 IMG_4133 Malam harinya suasana tidak menjadi sepi, musik-musik masih terdengar jelas apalagi ada latihan parade musik yang dilsayakan masyarakat sekitar untuk acara puncak esok hari. Setelah mencari makan kami memutuskan untuk menonton pagelaran wayang yang di adakan di candi arjuna. Pementasan wayang sudah mulai punah di kota-kota besar, ini menjadi pembelajaran akan sejarah dan budaya indonesia, dulu kala penyebaran agama islam dilsayakan dengan cara pementasan wayang oleh wali songo. dengan di temani segalas purwaceng susu hangat dan kacang rebus penontonpun dihibur oleh pementasan wayang. Bahasa yang di gunakan adalah bahasa jawa. Namun sangat disayangkan kebanyakan penonton hanya masyarakat sekitar Dieng. Tidak terlihat banyak wisatawan domestik yang menonton. Acara malam itu di tutup dengan pelepasan kembang api oleh bupati wonosobo. Suasana yang ramai dipecahlan dengan suara keras petasan yang meledak di udara. Langit yang berhias ribuan bintang ditemani dengan pecahan pecahan kembang api membuat suasana menjadi meriah dan sedikit romantis. IMG_4394 IMG_4403 Diacara puncak akan diadakan pemotongan rambut gimbal, rambut gimbal ini tumbuh secara alami pada anak-anak di kawasan Dieng. Tidak semua anak-anak tumbuh rambut gimbal. Hanya sebagian saja. Pemotongan ini dilakukankan karna takut akan hal yang menganggu pikiran dan kejiwaan anak nanntinya dikalau rambut ini terus tumbuh hingga dewasa nanti. Tahun ini ada 3 anak yang akan di potong rambutnya, semua berjenis kelamin perempuan. Sebelum di potong, 3 anak ini di arak mengelilingi kawasan Dieng yang sudah di tentukan sebelumnya. Dengan diiringi musik tradisional dan beberapa pendukung acara lainnya. 3 anak perempuan berambut gimbal ini di tempatkan diatas kereta lengkap dengan hiasaanya. Dari informasi yang saya dapatkan dari masyarakat sekitar ternayata setiap anak dapat meohon satu permintaan dan permintaan itu haris di penuhi walaupun itu sangat aneh dan mahal sekalipun. Ketiga anak itu meminta masing-masing yaitu satu buah sepeda, satu buah susu kemasan dan mainan. Mungkin anak yang meminta susu sedang kehausan kali ya hehe. Selesai diarak rombongan parade langsung mengantar ketiga anak berambut gimbal ke candi arjuna dimana tempat pemotongan rambut tersebut. Sebelum pemotongan dilsayakan terlebih dahulu upacara adat dan sambutan dari sesepuh adat setempat. Pemotongan dilsayakan satu persatu dan yang memotong rambut adalah bupati wonosobo, sesepuh adat setempat dan pemangku adat. Penonton di beri batas jarak untuk melihat karna untuk menjaga kelancaran acara pemotongan tersebut. IMG_4447IMG_4652 Disekitar acara tersebut ternyata ada beberapa kambing yang sedang mencari makan, saya tertarik dengan kambing ini karena bulunya yang sangat tebal dan bersih seperti di film kartun shaun on teh sheep. Berjalan mendekati sayapun mencoba berbincang dengan sang gembala, katanya memang sudah aktifitas setiap hari domba-domba ini mencari makan disekitaran candi. Selesai makan siang, Diengpun mulai terlihat sepi kembali. Kebanyakan hanya masyarakat Dieng yang lalu lalang. sebelum pulang saya memutuskan membeli oleh-oleh khas Dieng, yaitu carica. Carica ini terlihat seperti pepaya tetapi memiliki daging berwarna kuning. Tidak cukup melihat manisan carica yang terdapat di toko, saya mencari tempat rumah produksinya. Setelah berkeliling dan bertanya-tanya saya menemukan sebuah rumah sederhana. Awalnya saya kira tempat produksinya adalah rumah besar ataupun bangunan seperti pabrik tapi ternyata hanya rumah kecil yang memiliki beberapa ruangan di dalamnya. Saya bertemu ibu juju pemilik tempat itu. Dia menjelaskan secara detail proses produksinya dari mulai pengambilan buah sampai penjualan. Semua produksi dilsayakan di rumah ini dan hanya dilaukan oleh 5 orang karyawan saja. Carica bisa tahan hingga 6 bulan asalkan tidak di buka tutup kalengnya. IMG_4246 IMG_4520 IMG_4525 Sorepun tiba, dan saya sudah duduk di atas kursi menikmati angin yang masuk melalui sela-sela jendela. Tidak hanya keindahan alam saja yang diberikan tuhan kepada Dieng ini, budayanya tradisinya hingga masyarakatnya yang sangat berbeda menurut saya. Jika ditanya bagaimana Dieng, dengan kata-kata inipun mungkin tidak cukup. harus langsung merasakan dan mendapatkan “keindahan” itu dengan hati dan pikiran sendiri. IMG_4217