melewati yang terlewati

Liburan kali ini seperti biasa aku pulang ke kampung halaman, aku lahir di kota kecil di Jawa Barat yaitu Indramayu. Kota kecil ini berada di perbatasan antara Jawa barat dan Jawa Tengah. Liburan kali ini berbeda dengan liburan sebelumnya, aku lebih memilih menggunakan motor. Perjalanan kurang lebih mencapai 3 sampai 5 jam dari Bandung. Aku memang berencana untuk mengunjungi beberapa tempat di garis batas kabupaten Indramayu dan tidak dilewati oleh bus maupun kereta, Karena aku pikir kalau menggunakan bus atau kereta banyak hal yang aku lewati.

Aku berangkat pukul set 4 pagi, dengan menggunakan motor matic merah. Aku langsung tancap gas karena aku ingin melihat sunrise tepat di daerah Jatitujuh.  Jatitujuh adalah sebuah desa yang mana di kanan kirinya membentang luas sawah dan sungai ditambah suasana desa pagi hari yang khas akan aktivitasnya. Aku berangkat sendiri hanya di temani tas, kamera dan motor kesayangan aku ini.

Jalan yang gelap, sepi dan sangat dingin membuat aku terpaksa selalu bernyanyi sendiri ataupun monolog yaa biar tidak terasa dingin pikirku. Tapi lama-lama kaya orang gila juga sih.

Ternyata aku terlalu cepat, sesampainya di desa Jatitujuh masih sangat sepi, jalanpun masih kosong. Lalu lalang hanya mobil-mobil pengangkut barang yang terlihat, sesekali ada ibu-ibu tua mengayuj sepeda tuanya. Ya itu para petani yang harus bekerja sangat pagi sekali agar sampai di sawah yang sangat jauh dari rumahnya.

DSC_1387

Aku terlalu menikmati susana pagi itu ditambah lagi ditemani oleh sebatang rokok dan juga kopi yang memang aku sudah persiapkan dari Bandung, ya suasana ini sangat tidak bisa aku rasakan di kota besar.

Matahari sudah mulai terlihat, saatnya aku melanjutkan perjalanan ini. ya perjalanan ini masih setengahnya mungkin 2 jam lagi.

Selama perjalanan aku selalu bernyanyi sendiri dan berbicara sendiri, mengingat semua hal atau kadang kala aku berdiskusi dengan diri sendiri tentang hal-hal yang aku lihat selama perjalanan. Mulai dari bebek-bebek yang berbaris rapih hingga anak kecil yang di bonceng kakeknya dengan sepedah tua ke sekolah.

Setelah memasuki pusat kecamatan Jatibarang yang biasanya ini adalah jalur mudik di pantai utara, sawah-sawah berganti dengan toko-toko dan gedung-gedung bertingkat walaupun tidak setinggi gedung-gedung di Bandung.

Aku teringat akan desa pengrajin Topeng, ya Kabupaten Indramayu terkenal akan Tari Topengnya. Biasa di sebut Tari Topeng pantura. Aku langsung berubah arah, selama ini aku hanya melihat tariannya saja tanpa pernah mengetahui proses bagaimana cara membuatnya.

Setelah bertanya-tanya akhirnya aku sampai di desa Gadingan, tempat produksi Topeng. Aku langsung bertemu dengan pemiliknya yaitu pak Takmid. Pak takmid ini melanjutkan usaha keluarganya, usaha ini turun temurun dari kakeknya yang Ia teruskan hingga anaknya pun sekarang membantu Pak Takmid membuat Topeng.

Sebelumnya aku belum mengetahui tentang topeng, topeng itu ada banyak jenisnya, tiap warna dan bentuknya mencirikan karakter sang pemakai. Topeng putih yang mencirikan orang yang feminim dan baik hati sedangkan yang berwarna mencirikan karakter yang berani, tegas dan beribawa.

DSC_1440

Topeng yang dibuat secara manual menambah nilai lebih, karena ukiran yang di buat harus sama dan mempunyai bentuk yang simetris dan ternyata ini susah banget, harus punya keahlian khusus, karna kalau salah dalam mencongkel kayu akan di ulang dari awal dan topeng yang gagal tidak bisa di pakai lagi.

Akupun penasaran gimana caranya mengukir atau mencongkel kayu ini setelah di coba dan ternyata susah dan gagal total. Hahaha aku hanya terawa lepas dan langsung nanya ke pak Takmid, gimana caranya dan dia hanya menjawab

“ya gitu aja, gampang kok tinggal congkel”

Sial pikirku, memang sih sudah ketebak pasti jawabannya seperti itu. Ketika aku bertanya belajar dari mana dan bisa ajarin engga dia menjawab.

“aku sudah diajarin sejak kecil oleh kakek, jadi udah terbiasa sampe sekarang” jawab pak Takmid.

“ Pak, kalau anaknya perempuan gimana? Disuruh buat topeng juga ?” tanyaku.

“ Oh, engga. Malah dia menjadi penari Topengnya, dia diajarin dari kecil. Kebutulan aku punya cucu perempuan dan dia sekarang di belakang lagi siap-siap mau ke sanggar tari” Jawab pak Takmid.

Ketika mendengar itu, aku langsung bersemangat minta di antarkan ketempat cucunya. Namanya Desi tapi biasa di panggi Dede ya karena dia anak bungsu. Dia sangat suka dengan tari topeng ini, katanya ada nilai tambah di mata masyarakat sekitar kalau anak perempuan menari tari Topeng ini.

DSC_1340

Di sebelah tempat Dede duduk ada sebuah ruangan, dan aku pun iseng menanyakan ke pak Takmid.

“ Pak, Itu ruangan apa ?” Tanyaku

“ oh, itu tempat pembuatan topeng juga sama buat tempat topengnya” Jawab pak Takmid.

Setelah aku masuk dan ternyata tempat itu khas banget, ruangan dengan berdinding kayu dan beratap daun kelapa yang rapat di tambah lagi penerangan hanya dengan lampu petromak membuat ruangan ini terasa kuno. Di dalamnya ada seorang pria yang sedang membuat topeng, ternyata itu anak bungsu Pak Takmid, namanya adalah Surohman. Dia setiap hari bekerja membuat Topeng dan juga sesekali menjadi pemanggul kuda renggong.

Selain tari Topeng, Pak Takmid menyediakan jasa pementasan tradisional kuda renggong dan kuda lumping. Di Kab. Indramayu sendiri, perayaan sunatan, nikahan ataupun perkawinan biasa di meriahkan oleh pementasan tradisional kuda renggong dan Tari topeng.

IMG_0884

DSC_9920

Matahari mulai meninggi, dan aku liat jam sudah menunjukan pukul 10. Aku harus melanjutkan perjalanan. Setelah berpamitan aku di beri oleh-oleh sebuah gantungan topeng oleh Pak Takmid. Dan katanya.

“ jangan selalu melihat dari hasilnya saja tetapi dari prosesnya, ada banyak nilai disana”

Dan aku langsung terpikir iya memang proses lebih memberikan pengalaman dan pembelajaran dari hasil yang kita dapat dan lihat.

Setelah meninggalkan rumah pak Takmid, aku langsung menuju rumah, sesampainya di rumah aku langsung melepas semua kelelahan ini dengan sebuah renungan.

Mungkin karna kita terlalu cepat berjalan kita sampai melawati hal-hal yang ada disekeliling kita.

Berjalanlah santai dan perhatikan disekelilingmu, kamu akan menyadari banyak hal yang kamu lewati

*Tulisan ini dibuat untuk mengikuti kompetisi workshop TravelNBlog

https://plus.google.com/communities/104291205243191249782