semarang, seribu pintu seribu pelukan

Ya ketika pertama kali memasuki lawang sewu mungkin untuk sebagian orang menakutkan tetapi untuk saya malah penasaran dan ingin bertanya-tanya. Apa benar ini bangunan memiliki seribu pintu ? hmm malas untuk menghitungnyaa haha setelah berbicara panjang lebar dengan pihak pengelola saya memutuskan untuk masuk dengan membayar 5000 rupiah untuk setiap orang yang juga ternyata yang menjaga tempat tiket adalah orang indramayu yaah ini lah dunia…
Karena sore itu sedang ada rapat pengelola jadi pihak pengelola yang seharuya menemani kami berkelilingpun tidak ada. Cirri khas bangunan sangat terlihat jelas dari pintu-pintu ataupun dari gaya bangunannya. Banyak dipajang foto-foto bangunan ini pada jaman dulu silam ada juga foto kota semarang tempo dulu yaa ini memang bangunan yang membawa kita melihat kehidupan masyarakat pada jaman dahulu di balik suasana yang mistis ini apalagi waktu tambah sore. Setelah puas dengan seribu pintu ini saya melanjutkan ke simpang lima, bukan ke semarang jika tidak mengunjungi simpang limanya haha tujuan pertama saya adalah kuliner. Nasi pecel madiun menjadi pilihan saya, ini mirip dengan rumbah yaa ini rumbah di kasih nasi saya pikir, di hidangkan di atas kertas serbaguna dan di alasi daunpisang dan tidak memakai piring menjadi khas nasi pecel disini. Tangan-tangan ibu penjual yang memegang telor tempe yang penuh minyak menjadi keraguan saya tetapi masa bodo tentang itu haha dan rasanya sangat enak. Satu posri tidaklah cukup untuk memuaskan hasrat perut ini haha
Simpang 5 menjadi pilihan orang-orang untuk menghabiskan malam entah itu sekedar nongkrong ataupun bermain bersama keluarga. Disini juga banyak yang menyewakan alat-alat permainan seperti sepatu roda otopet dan mobil-mobilan untuk anak kecil. Dengan harga 15 ribu saya menyewa sepatu roda selama sejam. Butuh konsentrasi tinggi untuk memainkan sepatu roda disini tidak seperti di saparua yang jalurnya besar dan sepi. Disini kita memainkannya di trotoar pinggir jalan yang mungkin hanya 3 meter lebarnya, dan akhirnya saya memutuskan untuk memutari simpang lima yang cukup luas ini. berhubung ini malam minggu suasana simpang 5 sangat ramai. santai saya meluncur sembari melihat ke kanan jalanan yang cukup ramai dengan suara klakson mobil-mobil yang bising, tapi hebat hebatnya tidak ada satupun yang jatoh ke jalanan. Sebelum saya selesai bertanya-tanya tiba-tiba saya pun di tabrak dari depan oleh seorang bapak-bapak yang langsung memeluk saya dengan menyeimbangkan kami agar tidak jatuh tetapi kita sama-sama tertawa dan meminta maaf. Dan baru saya sadari tenyata tempat ini tidak memiliki arah jadi orang bebas mau memutar ke arah mana saja. hmmm terpikir mungkin sering terjadi kejadian tabrakan seperti itu dan ternyata memang banyak apalagi di tambah banyak orang-orang yang masih belajar. Tabrakan dan saling tawa menjadi pemandangan penghibur malam itu, tak lama kemudian saya berhenti karena jalannya yang penuh lubang dan tidak di terangi oleh lampu tiba-tiba lagi dan lagi saya di tabrak dari belakang dan langsung memeluk saya hahahah kami pun langsung tertawa walaupun tak saling kenal tetapi suasana selalu mencair dan hangat. Simpang lima yang besar membuat saya sering berhenti sembari menikmati jajanan yang ada di pinggir simpang lima. Ya ini dia kehangatan dari tuan rumah yang membuat tamu merasa nyaman .
" salah satu pintu di lawang sewu "

” salah satu pintu di lawang sewu “

" membentuk seperti ular"

” membentuk seperti ular”

" berbagai macam jenis alal olahraga"

” berbagai macam jenis alal olahraga”

" belajar sepatu roda"

” belajar sepatu roda”